Sabtu, 01 Desember 2012

DIKAWAL SENJATA, IMIGRASI MYANMAR PERIKSA WARGA MUSLIM

(PERANG DUNIA XXX) - Operasi imigrasi itu dilancarkan secara diam-diam tanpa publikasi sejak 8 Nopember lalu di wilayah Pauktaw, di mana desa Sin Thet Maw berada. 
 
Dikawal oleh polisi bersenjata, petugas imigrasi di wilayah barat Myanmar melakukan operasi imigrasi besar yang ditujukan untuk memeriksa status kewarganegaraan Muslim di negara itu, lapor Associated Press (1/12/2012).


Satu tim jurnalis AP yang belum lama ini melakukan perjalanan ke pulau desa Sin Thet Maw dan menyusuri gubuk-gubuk bambu tanpa listrik yang dilanda konflik sektarian beberapa bulan silam, mendapati petugas-petugas imigrasi Myanmar melakukan operasi semacam sensus atas setiap keluarga guna memverifikasi status kewarganegaraan Muslim.

Dilengkapi dengan pena, setumpuk kertas, serta peta yang digambar tangan, para petugas bekerja di atas meja kayu beralas tanah. Mereka mengumpulkan informasi mengenai tanggal dan tempat kelahiran, orangtua dan kakek-nenek –informasi terinci mengenai kehidupan tiga generasi setiap keluarga Muslim.

Operasi imigrasi itu dilancarkan secara diam-diam tanpa publikasi sejak 8 Nopember lalu di wilayah Pauktaw, di mana desa Sin Thet Maw berada.

Sensus warga Muslim itu sebenarnya berlangsung di seluruh wilayah negara bagian Rakhine (Arakan), tempat mayoritas penduduk Muslim Myanmar tinggal.

Kelompok Arakan Project yang berpusat di Thailand memperingatkan bahwa hasil sensus itu dapat dimanfaatkan pemerintah untuk melenyapkan hak kewarganegaraan Rohingya, yang selama puluhan tahun mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pemerintah dan warga mayoritas Buddhis.

Warga Muslim di Sin Thet Maw menyuarakan kekhawatiran mereka, sebab tidak ada pemberitahuan tentang tujuan dari operasi imigrasi tersebut.

“Yang kami tahu mereka tidak menginginkan kami berada di sini,” kata Zaw Win, seorang pria Muslim berusia 34 tahun yang mengatakan bahwa keluarganya tinggal di Sin Thet Maw sejak 1918.

Sejauh ini, lebih dari 2.000 keluarga Muslim telah menjalani sensus tersebut, tetapi “belum ada penduduk ilegal yang ditemukan,” kata Win Mying jurubicara pemerintah.

Tidak jelas apa yang akan terjadi pada Muslim Myanmar yang dianggap sebagai penduduk ilegal.

Di Pauktaw kota terdekat dengan desa Sin Thet Maw, terlihat rumah-rumah penduduk Muslim hancur jadi abu dan pohon-pohon palem hangus terbakar. Jejak-jejak kebencian warga Buddhis kepada Muslim terlihat sangat jelas di dinding sebuah masjid yang rusak. “Rakhine akan meminum darah Kalar,” bunyi salah satu coretan di dinding masjid. Rakhine adalah suku mayoritas Buddhis Myanmar di Arakan, dan Kalar adalah panggilan hina untuk Muslim di sana.

Hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar