Senin, 01 April 2013

KARZAI DAN AL-THANI BICARAKAN KANTOR TALIBAN



Qatar and Afghanistan Hold Official Talks

(PERANG DUNIA XXX) --- Doha// Presiden Afghanistan Hamid Karzai bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, Ahad (31/3) di Doha, membahas isu-isu kepentingan bersama dan pembukaan kantor perwakilan Taliban di Qatar, lansir Press TV yang dipantau MINA.

Kantor berita nasional, Qatar News Agency (QNA), mengatakan pembicaraan meneliti "perspektif perdamaian di Afghanistan", tetapi QNA tidak memberikan rincian lebih lanjut dari pertemuan low-profile di Doha itu.

"Kami akan membahas proses perdamaian dan pembukaan kantor untuk Taliban di Qatar," kata juru bicara kepresidenan Aimal Faizi, Sabtu sebelum Karzai meninggalkan Kabul menuju Doha.

"Jika kita ingin pembicaraan untuk perdamaian di Afghanistan, pihak utama yang hadir harus wakil pemerintah Afghanistan, Dewan Perdamaian Tinggi, yang memiliki anggota dari semua latar belakang negara etnis dan politik," tambah Faizi.

Sebuah pernyataan dari kantor Karzai mengatakan ia didampingi pada kunjungan kenegaraan dua hari oleh Menteri Luar Negeri Zalmai Rassoul dan Ketua Dewan Tinggi Perdamaian  Salahuddin Rabbani.

Usai pertemuan, Emir Qatar menyelenggarakan jamuan makan siang untuk menghormati Presiden Karzai dan delegasi tingkat tinggi Afghanistan.

Tahun lalu, Taliban mengumumkan mencapai kesepakatan awal dengan Qatar untuk membuka kantor penghubung di negara Arab.

Presiden Afghanistan sebelumnya telah menuduh kekuatan asing "merencanakan" proses perdamaian di Afghanistan.

Tanpa menunjuk suatu negara tertentu, Karzai mengatakan pada Februari bahwa ia telah memberitahu pemerintah Amerika Serikat selama kunjungannya ke Washington.

“Tidak ada pihak asing yang boleh mencoba mengambil proses perdamaian Afghanistan dari tangan kami," Katanya.

Perang pimpinan Amerika di Afghanistan dimulai tahun 2001. Serangan yang menggulingkan Taliban dari kekuasaan, membuat ketidakamanan terus meningkat di seluruh Afghanistan, meskipun ada kehadiran  lebih dari 100.000 pasukan pimpinan Amerika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar