Rabu, 10 April 2013

SERANGAN DI SUDAN SELATAN TEWASKAN 12 PENJAGA PERDAMAIAN

 

(PERANGDUNIA XXX) --- Juba// Para pejabat Sudan Selatan mengatakan lima penjaga perdamaian India dan tujuh staf sipil PBB tewas, Selasa (9/4) di Jonglei Timur, dalam serangan sekelompok pria bersenjata yang tidak dikenal, Daily Nation yang berbasis di Kenya melaporkan.

"Lima penjaga perdamaian dari India dengan UNMISS (Misi PBB di Sudan Selatan) tewas dalam serangan di Jonglei," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri India Syed Akbaruddin di Twitter, menambahkan bahwa empat orang terluka.

Pejabat PBB di Sudan Selatan Hilde Johnson mengutuk aksi pembunuhan tentara penjaga perdamaian dan beberapa staf sipil saat mengawal konvoi PBB dalam sebuah pernyataan.

Sebuah sumber PBB yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan kepada koresponden kantor berita Perancis bahwa "tujuh atau delapan" warga sipil tewas, yang diyakini mencakup staf Sudan Selatan.

Wilayah Jonglei Timur telah menjadi ajang konflik etnis yang luas sejak Sudan Selatan merdeka pada Juli 2011. Terjadi pertempuran berdarah antar etnis yang bersaing di antaranya etnis Dinka, Lou Nuer dan Murle.

Sebagian besar masalah berpusat di kabupaten Pibor, Jonglei, di mana pasukan penjaga perdamaian PBB dioperasikan.

Bentrokan berdarah antara tentara dan kelompok gerakan perlawanan pimpinan David Yau Yau, sarjana teologi dari etnis Murle, telah menghancurkan sebagian besar wilayah ini.

Seorang tentara India pernah ditembak dan terluka di sana pada Maret di tengah tingginya ketegangan antara pemerintah dan gerakan perlawanan. Dan pada Desember tahun lalu, sebuah helikopter PBB ditembak jatuh yang menewaskan empat tentara Rusia di dalamnya.

Di tengah bentrokan antara kelompok-kelompok etnis dan pasukan pemerintah, pasukan PBB baru-baru ini meningkatkan patroli untuk mencegah kekerasan dan memenuhi misi mereka untuk melindungi warga sipil.

Hari Senin Johnson telah memperingatkan  tentang "destabilisasi" di wilayah tersebut.

"Tanpa stabilitas dan perdamaian di Jonglei, negara bagian  terbesar di Sudan Selatan, dalam jangka panjang, berada di negara ini bisa beresiko," katanya kepada wartawan.

"Saya mendesak masyarakat Murle, Lou Nuer dan Dinka, pemimpin mereka, dan pemerintah Jonglei dan Sudan Selatan untuk melanjutkan dan tulus terlibat dalam prakarsa perdamaian," tambahnya.

Tentara Sudan Selatan meluncurkan serangan terbaru terhadap kelompok Yau Yau pada bulan Maret.

India merupakan penyumbang utama pasukan perdamaian PBB di seluruh dunia dan telah menderita kerugian di masa lalu.

Tahun 2010, gerilyawan membunuh tiga orang India dengan parang di kamp mereka di Republik Demokratik Kongo.

Akbaruddin mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri India yang mengatur pasukan  penjaga perdamaian di Sudan Selatan untuk kembali pulang.

Akhir 2011, hampir enam bulan setelah Sudan Selatan memproklamasikan kemerdekaannya, setelah beberapa dasawarsa perang saudara dengan utara, sekitar 8.000 pemuda bersenjata etnis Lou Nuer mengamuk di Kabupaten Pibor, mereka bersumpah untuk memusnahkan lawan penjaga ternak mereka, etnis Murle.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar