Sabtu, 02 Maret 2013

MANTAN MEMPORA: PERANAN BUKU TIDAK AKAN TERGANTIKAN





(PERANG DUNIA XXX) --- Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan peranan buku tidak akan pernah tergantikan oleh internet, Jakarta Jumat (1/3).

“Peranan buku tidak akan pernah tergeser oleh internet,” kata Adhyaksa di sela-sela kunjungannya di 12th Islamic Book Fair 1434/2013(IBF).

Pernyataan pria yang juga menjabat Ketua Umum Vanaprastha (Penggiat Alam Terbuka dan Aktivis Lingkungan) itu berdasarkan nubuwwah (gambaran peristiwa masa depan) Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa perang akhir zaman tidak menggunakan senjata berteknologi canggih.

“Sesuai dengan nubuwwah hadits, jika teknologi sudah tidak ada, manusia akan kembali ke buku-buku,” kata Adhyaksa.

Namun Adhyaksa mengkritik kondisi perbukuan Indonesia yang dinilainya sangat terlambat perkembangannya dibandingkan dengan Jepang.

“Jepang satu hari bisa menerbitkan 10.000 buku. Sama sekali terlambat buku-buku kita. Minat baca generasi Indonesia besar, tapi salurannya tidak ada,” katanya.

Menurut pria kelahiran Donggala itu, pemerintah harusnya punya peran yang besar di IBF, jika tidak masyarakat hanya tergantung pada event organizer dan sponsor.

Jepang Bangsa Pembaca

Orang Jepang membaca dalam kereta

Jepang mulai bangkit menjadi "bangsa pembaca" pada masa Restorasi Meiji. Hasrat untuk menyamakan langkah dengan Barat memicu mereka untuk bergegas melahap berbagai literatur. Penerbitan massal mulai berkembang sejak itu.

Dorongan kedua datang lewat kehancuran yang dibawakan oleh Perang Dunia II. Perpustakaan publik dibangun di mana-mana. Menyebarnya jalur kereta ke berbagai pelosok sejak 1950-an secara tidak langsung memperkuat kecenderungan masyarakat untuk membaca. Orang menghabiskan waktu beberapa jam setiap hari dalam perjalanan dengan kereta.

Membaca budaya bangsa Jepang sejak dulu

Pembaca Jepang yang memegang buku bersampul rapi, kepala tertunduk, asyik terbenam dalam bacaannya, menjadi pemandangan yang paling banyak ditemukan di dalam gerbong, selain orang yang tertidur.

Selama masa-masa emas penerbitan Jepang pada 1950-an dan 1960-an, jumlah buku yang diproduksi pertahun terus melejit. Para pengarang seperti Yukio Mishima, Osamu Dazai, Junichiro Tanizaki, dan Yasunari Kawabata bukan hanya dibaca oleh banyak orang tetapi juga menjadi simbol budaya yang penting.

Tingginya produksi mengakibatkan sejumlah besar buku dan majalah baru dikirim ke toko setiap bulan, sehingga buku-buku tak dapat dipajang terlalu lama di rak toko. Karena terbatasnya ruang dalam toko, tak jarang paket buku tersebut langsung dikembalikan ke penerbit tanpa membuka bungkusnya. Akibatnya tingkat pengembalian buku yang tak terjual ke penerbit menjadi sangat besar, rata-rata 40% dan pernah mencapai 50%




Tidak ada komentar:

Posting Komentar